Rencana Monorail Jakarta

April 13, 2008 at 8:02 am Tinggalkan komentar

Bila tak ada aral melintang, pada 2006 Jakarta sudah akan memiliki sistem angkutan umum monorel. Monorel itu dicita-citakan bakal mengurangi kemacetan jalan dan memberikan kenyamanan kepada warga Jakarta.

Adalah PT Indonesia Transit Central (ITC) yang memprakarsai dan ditunjuk untuk membangun kereta ringan berel tunggal itu. ITC merupakan konsorsium yang terdiri atas PT Adhi Karya, PT Global Profex Sinergy, dan PT Radiant Utama.

Menggandeng MTrans Holdings dari Malaysia sebagai mitra sekaligus investor, proposal ITC langsung menarik hati Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso sebagai penentu kebijakan. Alhasil, pada 29 Agustus lalu nota kesepahaman antara ketiga pihak telah diteken di Kuching, Malaysia, disaksikan Presiden Megawati dan Perdana Menteri Mahathir Mohamad.

Saat ini ITC sedang berpacu untuk segera menyelesaikan studi kelayakan proyek tersebut. Riset meliputi aspek kelayakan teknis, finansial, legal dan perizinan, serta rentang tanggung jawab. Bila sudah selesai, hasilnya akan digodok lagi oleh Pemerintah DKI Jakarta bersama para pakar dan konsultan pembangunan, serta pakar hukum kontrak internasional. “Pembahasan tersebut sangat dibutuhkan agar isi perjanjian tidak merugikan kedua pihak,” ujar Asisten Pembangunan Sekretaris Daerah DKI Jakarta, Irzal Djamal.

Direktur ITC Sukmawaty Syukur mengaku menggandeng MTrans karena takjub melihat teknologi kereta melayang yang mereka kembangkan di Malaysia. “Monorel di sana harganya murah dan minim penggunaan lahan,” ujarnya. Sebagai perbandingan, ongkos bangun yang dipatok MTrans hanyalah US$ 20 juta per kilometer. Sedangkan Hitachi dari Jepang dan Bombardier dari Prancis memasang harga dua kali lipatnya, US$ 40 juta per kilometer.

Kelebihan lain, pembangunan monorel dengan teknologi Malaysia tak akan terlalu mengganggu lalu lintas karena semua infrastruktur dibangun di pabrik (prefabricates) dan kemudian tinggal dipasang. Teknik inilah yang membuat Gubernur Sutiyoso langsung jatuh hati.

Pada tahap awal, Monorel Jakarta akan dibangun di dua jalur. Line pertama terentang dari Kampung Melayu, Jakarta Timur, sampai Roxy, Jakarta Barat, sepanjang 12 kilometer. Di sini akan dibangun 11 stasiun pemberhentian.

Sedangkan lajur kedua didesain melingkar (loop), mulai dari Jalan Rasuna Said-Gatot Subroto-Sudirman Central Business District-Senayan-Pejompongan, kembali ke Rasuna Said, yang panjangnya juga diperkirakan 12 kilometer. Di rute ini akan didirikan 14 stasiun.

Jadi, panjang seluruh jalur mencapai 24 kilometer, dan total memerlukan investasi US$ 480 juta atau sekitar Rp 4 triliun dengan kurs saat ini (US$ 1 = Rp 8.300).

Pada tahap berikutnya, jalur baru akan dilebarkan dari Kampung Melayu ke Bekasi dan dari Roxy ke Tangerang. Soalnya, pengembangan yang ini memerlukan izin dari pemerintah pusat karena melibatkan daerah di luar Jakarta.

Di beberapa titik rencananya kelak akan dibangun stasiun pergantian moda transportasi bersama. Contohnya, stasiun Dukuh Atas diproyeksikan menjadi titik persilangan antara jalur kereta, monorel, dan busway.

Pokoknya, monorel dicita-citakan sebagai sistem transportasi alternatif yang cepat dan antimacet.

Sistem “kereta melayang” ini memang mampu melaju hingga kecepatan 90 kilometer per jam. Tapi, mengingat banyaknya stasiun yang harus disinggahi, kecepatan rata-ratanya kelak ditaksir cuma 40 kilometer per jam. Bila dilengkapi enam gerbong, sekali jalan monorel bisa menampung 35 ribu penumpang per jam.

Sukma mengaku 30 persen dari investasi akan ditanggung bersama oleh pihak investor, yaitu ITC dan MTrans. Sedangkan sisanya akan dipinjam dari bank. Kalau tak berhasil mengail kredit, MTrans telah menyanggupi menanggung seluruh investasi. Seluruh duit yang dikeluarkan itu diyakininya bisa kembali dalam waktu 10-15 tahun.

Perhitungannya begini. Untuk tiket jarak terjauh, akan dikenakan tarif Rp 7.000. Adapun jumlah penumpang diperkirakan mencapai 150 ribu orang per hari, dengan kenaikan 5 hingga 10 persen setiap tahun.

Untuk memastikan amannya modal yang ditanamkan, Sukma berharap pemerintah memberikan konsesi pengelolaan kepada ITC selama 40 tahun. “Itu sama dengan konsesi yang diberikan pemerintah Malaysia untuk monorail di sana,” ujarnya.

Ia juga berharap penentuan tarif tak perlu distempel Dewan Perwakilan Daerah dulu. Untuk itu, Sukma mengaku sudah mendapat “garansi” dari Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Iskandar Abubakar. “Pak Iskandar menjelaskan tarif angkutan non-ekonomi tak diatur oleh lembaga legislatif,” ia menirukan. Meski mendapat keleluasaan, Sukma berjanji tak akan menggenjot tarif
seenaknya.

About these ads

Entry filed under: KERETA API KUW. Tags: .

NO TELP STASIUN DI JAKARTA Pintu perlintasan kereta api

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

April 2008
S S R K J S M
« Mar   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Most Recent Posts


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: